Senin, 29 Maret 2010

PENGGUNAAN OBAT PADA ANAK DAN LANSIA

 DOWNLOAD
Penggunaan obat pada anak dan Lansia
Penggunaan obat pada anak
Penggunaan obat pada anak harus dipertimbangkan secara khusus karena
adanya perbedaan laju perkembangan/pematangan organ yang juga mencakup fungsi organ tubuh dan sistem dalam tubuh
Faktor farmakokinetika seperti absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat.
Penggolongan usia anak berdasarkan perubahan biologis

neonatus/bayi baru lahir (4 minggu pertama setelah kelahiran, terjadi perubahan fungsi fisiologi yang sangat penting namun masih prematur)
bayi (1 bulan sampai 12 bulan), merupakan masa awal pertumbuhan yang pesat
anak-anak (1-12 tahun) adalah masa pertumbuhan secara bertahap, yang bisa terbagi menjadi anak usia 1-3 tahun, anak usia pra sekolah 3-5 tahun dan anak usia sekolah 6-12 tahun
remaja (13-17 tahun), merupakan akhir tahap perkembangan secara pesat hingga menjadi orang dewasa.

Faktor yang perlu diperhatikan
Farmakokinetika obat pada anak
Dosis
Pemberian obat
Penyuluhan dan kepatuhan
Efek samping pada anak
Farmakokinetika obat pada anak
Absorpsi
Laju absorpsi dan jumlah yang terabsorpsi
Waktu pengosongan lambung menyamai orang dewasa, pada bayi diatas 6 bulan
Absorpsi perkutan pada neonatus dan bayi jauh lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa
Diare akut (kasus yang sering dijumpai pada anak) mengakibatkan penurunan absorpsi
Farmakokinetika obat pada anak
Distribusi
Selama usia bayi, kadar air total dalam tubuh thd BB total memiliki prosentase yang lebih besar daripada anak yang lebih tua/orang dewasa
Obat yang larut air, diberikan dosis yang lebih besar pada neonatus untuk mendapat efek terapetik yang dikehendaki
Kadar albumin dan globulin pada bayi, rendah, sehingga obat tidak terikat pada protein lebih banyak shg kadar dalam darah meningkat.
Farmakokinetika obat pada anak
Metabolisme
Pada saat lahir, sebagian besar enzim yang terlibat dalam metabolisme obat belum terbentuk atau sudah ada namun dalam jumlah yang sangat sedikit.
Ekskresi
Laju filtrasi glomerulus pada bayi yang baru lahir lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa karena ginjalnya relatif belum berkembang dengan baik.
Dosis
Dosis obat untuk anak tidak dapat diekstrapolasikan dari dosis lazim orang dewasa
Metode yang dapat digunakan :
Perhitungan dosis dalam mg/kg
Perhitungan dosis dalam mg/m2
Prosentase terhadap dosis dewasa (langkah terakhir yang dapat dilakukan, jika informasi diatas tidak tersedia)
Pemberian obat
Faktor yang menjadi pertimbangan sebelum suatu obat diberikan kepada seorang pasien anak :
Rute pemberian yang diinginkan
Usia anak
Ketersediaan bentuk sediaan
Pengobatan lain yang sedang dijalani
Kondisi penyakit
Penyuluhan dan kepatuhan
Kepatuhan anak terhadap pengobatan sangat tergantung pada orang tua, atau pengasuh
Penyuluhan dengan melibatkan pasien anak dapat dilakukan pada pasien usia 8-10 tahun
Hal-hal yang dapat mempengaruhi kepatuhan :
Formulasi (rasa)
Penampilan obat
Kemudahan cara penggunaan
Waktu pemberian obat (berhubungan dengan waktu tidur, waktu sekolah)
Efek samping pada anak
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menghindari kemungkinan terjadinya efek samping :
Informasikan jika anak sedang minum obat bebas, suplemen makanan
Tanyakan efek samping dari obat
Amati apakah terjadi perubahan pada anak
Ikuti petunjuk dosis dan cara pakai
Untuk obat jangka panjang, jangan dihentikan mendadak
Penggunaan obat pada lansia
Masalah pada  pemberian obat pada pasien usia lanjut

Item yang sebenarnya  tidak diperlukan  ( diperkirakan 25 % )
Petunjuk yang tidak memuaskan
Frekuensi, interval dosis yg tdk sesuai
Duplikasi terapi
Interaksi obat

PERUBAHAN PADA USIA LANJUT

1. PERUBAHAN SOSIOLOGI

2. PERUBAHAN FISIOLOGI

3. PERUBAHAN FARMAKOKINETIK
   
4. PERUBAHAN FARMAKODINAMIK


PERUBAHAN FISIOLOGI
Reduksi sekresi asam lambung
Penurunan motilitas saluran cerna
Reduksi luas permukaan total absorpsi
Reduksi aliran darah jaringan
Reduksi ukuran hati
Reduksi aliran darah hati
Reduksi filtrasi glomerulus
Reduksi filtrasi tubuler  ginjal

PERUBAHAN FARMAKOKINETIK
Absorpsi
Penundaan pengosongan lambung, Reduksi sekresi asam lambung, Reduksi aliran darah jaringan                                   
Contoh absorpsi berkurang : digoksin, tiamin, kalsium, besi
Distribusi
Komposisi tubuh
Total air dlm tubuh dan masa tubuh tanpa lemak (lean body mass),  shg volume distribusi obat yang larut dlm air . Contoh digoksin dan simetidin.
Total lemak dlm tubuh, shg distribusi obat yang larut dalam lemak 
 Contoh : benzodiazepin seperti diazepam
PERUBAHAN FARMAKOKINETIK
Distribusi
Ikatan plasma – protein
Jumlah albumin  plasma menurun 
Obat yang bersifat asam  yang biasanya berikatan dengan protein,  menjadi dalam keadaan  bebas  shg kadarnya meningkat
Contoh simetidin, furosemid, warfarin
Aliran darah organ
Perubahan aliran darah  akan perfusi pada anggota gerak, hati, mesenterium,otot jantung dan otak
Perfusi sampai 45 % dibanding usia 25 tahun
Pengaruh tidak siginifikan pada distribusi obat , walau ada  penurunan kecept distribusi ke jaringan .
PERUBAHAN FARMAKOKINETIK
Eliminasi

Metabolisme hati dan ekskresi ginjal             
Efek dosis tunggal akan diperpanjang
Metabolisme hati
Penurunan first metabolism, akan meningkatkan bioavailabilitas obat, contoh propranolol, labetolol, nifedipin, nitrat dan verapamil.
Reduksi masa hati sebesar 35 % dimulai usia 30 s/d 90 tahun shg kapasitas metabolisme intrinsik hati menurun       dan bioavailabilitas meningkat, toksisitas meningkat

PERUBAHAN FARMAKOKINETIK
Eliminasi hati
Penurunan alirah darah hati, bioavailabilitas meningkat
Contoh nifedipin, shg efek hipotensi meningkat secara bermakna dan harus diwaspadai

Perubahan enzimatik : kecepatan metabolisme sitokrom P 450 dapat menurun s/d 40 % jika dibanding pasien dewasa muda. Waspada pada obat dengan indeks terapi sempit karena bermakna secara klinis

PERUBAHAN FARMAKOKINETIK
Eliminasi
Eliminasi ginjal       

Penurunan aliran darah ginjal, ukuran organ , filtrasi glomerulus dan fungsi tubuler.
Perubahan terjadi dengan tingkat yang berbeda untuk setiap individu
Kecepatan filtrasi glomerulus menurun 1 % / tahun setelah usia 40 tahun.
Menyebabkan peningkatan kadar obat dalam jaringan sampai 50 %



2. PERUBAHAN FARMAKODINAMIK

EFEK SAMPING OBAT

Pasien lansia berisiko tinggi terhadap toksisitas  obat tertentu  seperti benzodiazepin kerja panjang,OAINS, warfarin, heparin, aminoglikosida, isoniazid, tiazid dosis tinggi, antineoplastik dan antiaritmia.
Contoh  eso pada lansia :
Postural hipotensi karena diuretik
Prostatisme karena antikolinergik

FAKTOR RISIKO ESO  PADA LANSIA :


Polifarmasi

Interaksi obat – obat :
Penggunaan bersamaan obat dengan efek samping mirip akan memperparah eso yang terjadi
Interaksi obat dengan penyakit :
Interaksi obat dengan penyakit
Pemberian  OAINS, aminoglikosid, radiokontras pada pasien lansia dengan gagal ginjal kronik                     dapat 
    terjadi gagal ginjal akut
Pemberian kortikosteroid  pada pasien lansia dengan osteopenia              dapat terjadi fraktur
Pemberian OAINS  pada pasien lansia dengan hipertensi                dapat terjadi peningkatan tekanan darah


HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN UNTUK MENCAPAI KEBERHASILAN FARMAKOTERAPI LANSIA
1. Dosis, keamanan dan manfaat dari obat.
Dosis umumnya  diturunkan hingga 1/5, ttp berbeda untuk setiap individu.
Obat dengan indeks terapi sempit dimulai dengan 1/3 atau ½ dosis lazim
Untuk obat yang eliminasi nya dipengaruhi (menurun), berikan 50 % dari dosis awal yg dianjurkan.

2. Jumlah obat yang diberikan
Semakin banyak jumlah obat polifarmasi dgn segala risiko

3. Kepatuhan pasien
    Hanya 60 % yang patuh sedangkan 40 % pasien lansia meminum obat kurang dari yang  diberikan dokter.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar